Inovasi STTAL Kembangkan Senjata Berbasis Android

 

senjata-berbasis-android

Sebagai kampus riset kelas dunia, Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL). Pada Rabu, 15 Maret 2017 menjadi hari yang istimewa  karena ada uji coba prototipe senjata baru berbasis Android hasil inovasi dan pengembangan STTAL, sekaligus genap 51 tahun berdirinya STTAL.

Institusi pendidikan  STTAL tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan SDM, tapi juga pengembangan teknologi. STTAL optimistis dapat membawa kemajuan TNI-AL. Sebab, mereka cukup berpengalaman mencetak sumber daya manusia serta alat utama sistem senjata (alutsista).

Salah satu wujud nyatanya adalah teknologi terbaru yang tengah dikembangkan STTAL. Yakni, senapan berbasis Android. Komandan STTAL Laksamana Pertama (Laksma) TNI Siswo Hadi Sumantri dan jajarannya menguji coba senapan yang telah dimodifikasi tersebut. Senapan yang dijuluki gun controller berbasis Android itu merupakan tugas akhir salah satu lulusan STTAL, yakni Kapten Laut (P) Marsono Panjaitan. Senapan tersebut didemonstrasikan langsung oleh dosen pembimbingnya, Letkol Laut (E) Suprayitno.

Ide senjata berbasis android memang belum pernah ada di kalangan akademisi STTAL. Karena itu, ide senjata tanpa awak tersebut disambut baik oleh tim pengajar dan pengembang teknologi. Selama ini, penggunaan senapan secara langsung sering membahayakan prajurit. Diharapkan dengan teknologi ini, risiko kematian prajurit bisa berkurang di Indonesia bisa berkurang.

Senapan tanpa penembak langsung ini bisa meningkatkan efisiensi di medan pertempuran. Jika biasanya penembak hanya bisa melepaskan tembakan sekali, kemudian harus berpindah posisi untuk menghindari serangan musuh, senapan berbasis Android itu bisa melepaskan tembakan berkali-kali tanpa berpindah posisi. Kalaupun diserang, yang kena hanya senjatanya dan prajuritnya tetap aman.

Prototipe tersebut bisa dioperasikan dengan aplikasi yang dikembangkan sendiri oleh mahasiswa. Diperlukan dua ponsel untuk mengoperasikan senapan itu. Satu sebagai peninjau dan dipasangkan tepat di balik periskop senapan, satu lagi sebagai controller. Kedua ponsel disambungkan melalui bluetooth dan wifi. Saat ini, alat tersebut masih menggunakan senapan angin demi keamanan. Jarak controller dengan peninjau pun masih sebatas 20 meter. Namun jika sudah dikembangkan, bisa dipakai senapan jenis AK-47 atau M-16.

Dilihat dari segi kesempurnaan memang masih banyak komponen prototipe tersebut yang harus disempurnakan dan tentu saja ini belum bisa digunakan langsung. Sebab, waktu pengerjaannya hanya 6 bulan. Juga, komponen-komponen yang digunakan belum berkualitas tinggi. Namun, konsep pemikiran senjata tersebut perlu diapresiasi. Apalagi, senjata semacam itu bersifat multifungsi. Tak hanya bisa dipakai angkatan laut, tapi juga angkatan darat dan udara.

Dengan hasil riset dan inovasi ini diharapkan cita-cita TNI-AL secara nasional menjadi “world class navy”.  Atau  pergerakan TNI menuju navy kelas dunia, yang dimana poin utama peningkatan SDM diutamakan. Dalam waktu dekat pemerintah akan mengembangkan STTAL menjadi kampus riset untuk memenuhi kebutuhan angkatan laut Indonesia sebagai poros maritim internasional.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s